Secret Unknown

“Fay!” Sosok gadis tinggi itu menoleh lembut dan melambaikan tangan padaku tanda dia membalas sapaanku. Aku segera menghampirinya,
“Lo besok jadi liat gue kan?”
“Pasti kok” seraya menjawab sambil mengacungkan jempolnya.
“Gue tunggu ya? Awas lo sampek gak dateng! Gue jitak lu”
“Hehehe iya iya,udah ah gue mau pulang,ada sodara gue ke rumah. Daaaa” Ujarnya sambil berlari memasuki mobil yang sedari tadi menunggu pemiliknya itu.

“Fay.. Fay.. Lo itu gak bosen bosen ya bikin gue takjub sama diri lo! Udah cantik,pinter,pantes aja setiap pagi loker lo banyak kembang sama surat..”

          Keesokan pagi di lapangan SMA Kertajaya.
Fay mana sih? Kok belum dateng juga?  Tanyaku dalam hati seraya mencari cari sosok gadis putih,tinggi,berambut panjang itu.
“Bro,buruan deh,bentar lagi kita tanding nih.” Tegur Edo ketika aku tetap mencari cari sosok ‘Fay’.
“Eh,iya iya..” Jawabku sambil mengikuti langkah kakinya.

          Sementara itu di lain tempat…
“Dok,Fay bisa sembuh kan dok?” Tanya sang Bunda yang terus menanyakan pertanyaannya kepada dokter,tanda bahwa sang Bunda benar benar khawatir kepada anaknya.
“Kita berusaha buk,kanker itu sudah menyebar. Apa Ibu benar benar belum pernah mengetahui anak ibu mengidap penyakit ini?”
“Sama sekali belum dok,dia belum pernah cerita sama saya. Dia setiap hari terlihat sehat dalam kesehariaannya.”
“Betul buk,saya kira Fay merahasiakan penyakitnya.”
“Tapi Fay bisa sembuh kan dok?” Tanya sang Bunda sekali lagi dengan pertanyaan yang sama.
“Kita berusaha buk,kanker itu telah memasuki stadium akhir. Salah satu pilihan Fay adalah selamat atau meninggal di meja operasi.”
“Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya dok! Saya akan membayar berapapun itu!” pesan sang Bunda sambil terus menangis.
“Pasti buk.” Ujar dokter sambil memegang bahu bunda untuk menenangkannya.

Fay,lihatlah. Semua khawatir denganmu,semua sayang padamu. Bukalah matamu Fay,tunjukkan bahwa kau masih sehat.

          Operasi telah 2 jam berlangsung. Sementara itu,dilapangan SMA Kertajaya..

“GO RENDY GO RENDY GO! AYO REENN!!” teriak para supporter dengan antusiasnya.
Fay mana? Kenapa belum dateng juga? Aku masih terus berusaha mencari cari sosok itu ditengah tengah kerumunan orang.
“REN! SHOOT!” teriak salah seorang timku,dan aku langsung memasukkan bola ke dalam ring,dan..
 “PRIIIIIITTT” peluit wasit dibunyikan,tanda pertandingan telah usai.
“YAAAAYYYY!” sorak gembira terdengar di sekitar lapangan. Timku akhirnya menjadi juara pertandingan ini. Dan, tanpa Fay....

“Brooo!!! You rock meeenn!” sambut Edo di pinggir lapangan. “Thanks bro”
“Fay mana ya? Daritadi gue gak liat doi tuh.” Tanya Edo sambil celingukan kanan kiri.
“Tauk,gue daritadi juga nyari dia.” Jawabku sambil mengucurkan air mineral ke wajahku.
“Lo kerumahnya aja bro.” saran edo sambil memeluk pundakku.
“Yaudah deh,gue langsung cabut sekarang ya men.”
“Lo gak makan makan dulu gitu? Ngrayain kemenangan kita broo.”
“Gak deh,thanks.” Aku berdiri dan meninggalkan Edo bersama teman teman satu timku yang lain. “Gue cabut dulu ya!”
“Oke,ati ati bro.”
“Sip” seraya mengacungkan kedua  jempolku.

          Sementara itu,dirumah sakit..

“Gimana dok?!” Tanya Bunda khawatir begitu dokter keluar dari ruang operasi.
“Fay masih tertolong buk.” Jawab sang dokter sambil memegang bahu kiri sang bunda.
“Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih banyak dok,terimakasih.”
“Ini juga berkat do’a ibu. Jangan berterimakasih kepada saya,berterimakasihlah kepada Tuhan.”
“Saya boleh melihat keadaan anak saya dok?”
“Untuk saat ini,biarkan Fay istirahat dahulu,dia masih belum pulih benar.”
“Baiklah,saya tunggu.”
          Air mata bunda yang terus jatuh,air mata yang kini menunjukkan syukur,bahagia,dan haru karena anaknya berhasil tertolong.

          Siang itu dirumah Fay..
“Faaay!” teriakku diluar pagar rumah Fay Novita. Tak lama,tukang kebun Fay membukakan pagar rumah.
“Pak,Fay ada?”
“Non Fay masuk rumah sakit mas. Tadi pagi non Fay dibawa ke rumah sakit Raharjo sama nyonya.”
“Hah? Fay masuk rumah sakit? Dia sakit apa pak?!” nada pertanyaanku yang mulai panik mendengar berita yang disampaikan pak Slamet. Selama ini Fay kelihatan sehat.
“Wah kalo itu saya kurang tau mas,soalnya non Fay selama ini kelihatan sehat sehat saja.”
“Yaudah deh pak,saya kesana dulu.”
-||-
“Tante?”
“Rendy!”
“Gimana keadaan Fay? Tadi Rendy ke rumah tapi kata pak Slamet Fay masuk rumah sakit. Fay sakit apa te?”
“Fay mengidap Leukimia stadium akhir dy,tante juga baru tau sekarang. Tante kira kamu tau?”
“Fay gapernah cerita te. Terus keadaan Fay gimana?”
“Fay udah dioperasi,Fay selamat.” Senyum lembut terukir di wajah sang bunda,diiringi dengan air mata yang sedari tadi terus jatuh.

          Satu jam diruang tunggu,ketika ayah Fay datang,tak lama setelah itu dokter memberitahukan keadaan Fay.

“Fay,lo sembuh doong.” Ujar Rendy di pinggir ranjang. Tak lama,dengan sangat perlahan Fay membuka matanya.
“Bunda...” Gumam Fay sangat pelan. “Iya sayang,bunda disini.”

          Sorot lampu ruangan membuat Fay memejamkan matanya sebentar dan membukanya lagi dengan sangat perlahan.
-||-
Satu minggu setelah itu..

Setelah 3 bulan kemudian,keadaannya berangsur angsur membaik. Hingga sampai pada akhirnya,sabtu sore di halaman depan rumah Fay..

“Bugh.” Fay terjatuh lemas dekat Randy.
“FAY!” teriak Rendy panik. “Lo kenapa? Lo gakpapa kan? Kita kerumah sakit sekarang!” ujar Rendy panik yang langsung menggendongnya masuk ke dalam mobil dan langsung membawanya kerumah sakit.
          Darah segar terus mengucur dari hidung Fay,dan selalu dibersihkan oleh Rendy.

“Halo? Tante,Fay masuk rumah sakit lagi.”
“Apa? Oke tante segera kesana.”

          Tak lama,ayah Fay dan sang bunda datang..
“Gimana keadaan Fay?” Tanya ayah dengan wajah panik.
“Rendy juga gak tau om,tadi waktu di taman Fay tiba tiba jatuh terus mimisan.” Papar Rendy singkat.
“Fay....” gumam sang bunda pelan dan langsung membenamkan mukanya ke dada ayah sambil menangis.

“Dokter! Gimana keadaan anak saya?” Tanya ayah gusar.
“Anak bapak mengalami masa kritis. Tapi bapak dan ibu boleh melihatnya,saya persiapkan ruang operasi terlebih dahulu.”
“Terima kasih dok.” Ujar ayah yang langsung memasuki ruangan UGD diikuti sang bunda beserta Rendy.

“Faaay.. Kamu sadar dong sayang.” Ujar sang bunda lembut sambil memegangi tangan kanan Fay.

“Bunda...” gumam Fay lirih nyaris tak bersuara.
“Ya sayang?”
“Fay sayang bunda,Fay sayang banget sama bunda.”
“Bunda juga sayaaaanggg banget sama Fay,Fay cepet sembuh ya?”
“Fay sayang bunda.”
“Iya sayang bunda juga sayang banget sama Fay.”
“Ayah,ayah,Fay juga sayang ayah.”
“Iya sayang,ayah juga sayang banget sama Fay.” Ujar ayah seraya mengusap dahi Fay pelan.
“Rendy..” kali ini Rendy yang dipanggil,apa Fay juga sayang sama Rendy seperti dia sayang mama papanya?

“Ya Fay?”
“Lo jaga ayah bunda gue ya? Jaga mereka baik baik,gue juga sayang sama lo. Lo sahabat gue paling baik yang pernah gue punya.”
          Sahabat? Lo cuman anggep gue sahabat lo Fay? Gue pengen lebih dari itu Fay,gue sayang lo. Gue sayang lo lebih dari seorang sahabat. “Ah lo Fay,beres bos,ayah bunda lo bakal gue jaga. Asalkan lo sembuh dulu gimana?” canda Rendy yang berusaha menghibur Fay dan hatinya sendiri.
          Fay hanya tersenyum lembut. Senyuman itu sama dengan senyum sang bunda.

“Bunda baik baik ya? Fay sayang bunda.” Ujar Fay pelan dan langsung memejamkan matanya.
“Fay..” Panggil bunda sedikit khawatir. Fay tetap tak bergerak,nafasnya terhenti.
“Faaaaaaaayyy!!! Fay bangun faaay!!! FAY BANGUN SAYAANG!! FAAAAY!!” teriak sang bunda panik. Air mata bunda jatuh tak tertahankan. Ayah berusaha menenangkan sang bunda,mendekap bunda erat erat. Rendy,kali ini mata yang tak pernah basah oleh air mata itu,terlihat sangat basah.
-||-
          Semua teman teman baik Fay,keluarga,guru guru yang selalu membanggakan Fay atas prestasinya,semua datang pagi itu dipemakaman Fay. Tempat Fay beristirahat dengan tenang. Tempat terakhir Fay sebelum ia dihadapkan kepada Tuhan. Fay sangat menyayangi semua orang,tak terkecuali orang orang yang selalu membencinya. Fay teman yang hebat,anak yang patuh,dia murid cerdas,dia orang terindah yang pernah Rendy kenal.

          Saat itu Rendy datang,ia hanya melihat dari kejauhan. Perasaannya yang tak pernah iya nyatakan,perasaan yang kini takan pernah keluar dari mulutnya. Fay telah pergi meninggalkannya. Hal yang takan pernah diharapkannya sebelumnya. Wanita yang mampu membuat hidupnya jauh lebih baik setelah perpisahan kedua orang tuanya,kini pergi begitu saja. Entah apakah hidupnya akan terus membaik,atau bahkan lebih parah dari hidupnya yang dulu.
          Perasaan sakit yang berlipat lipat,perasaan sakit yang terus dia tahan. Air mata yang tak pernah menetes,sekarang membasahi wajahnya,membuat matanya sembab. Rendy yang tak pernah menangis,kini menangis.
          Fay,gue suka sama lo! Apa lo ngerti itu? Apa lo sadar? Gue sayang sama lo Fay,gue sayang lo! Lo pergi gitu aja ninggalin gue,kenapa lo gapernah cerita tentang ini Fay? Kenapa? Gue sayang lo Fay. Gue gak tau,gimana hidup gue setelah kepergian lo,tapi gue gak bakal kecewain lo disana Fay. Gue sayang lo,baik baik lo disana Fay. Gue bakal jaga ortu lo. Gue janji Fay.

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Need time to rest