Sakit yang Indah

“Gue ngerti kok gimana perasaan lo,lo yang tabah ya? Gue yakin lo bisa lewatin ini semua.” Dengan penuh ketulusan,dia meyakinkanku,membuatku percaya bahwa aku bisa melewati ini semua.
Dia Ames,orang yang selalu menemaniku melewati semuanya. Dengan ketulusan hati dia selalu meyakinkanku,meyakinkanku untuk bisa melewati semua ini. Ya,semua permasalahan yang bertubi tubi datang padaku,yang membuatku lemah,membuatku sering menjatuhkan tetes tetes air mataku. Hanya dia yang bersedia menjadi tempat aku mencurahkan segalanya.
            Dengan menggunakan tangannya,dia menyeka air mata yang tak henti hentinya jatuh sejak aku bercerita segalanya. “Lo gak boleh kayak gini terus,lo mesti kuat. Semua masalah memiliki keindahan tersendiri dibaliknya. Lo percaya itu kan?” aku hanya menganggukkan pertanyaan itu. Gue  udah ngerasain kok keindahan itu,selama ini gue udah ngrasain itu. Keindahan itu…..lo. Cuma lo yang bisa ngerti keadaan gue,cuman lo yang ngerti gimana gue yang sebenarnya,Cuma lo yang mau nrima gue apa adanya. Tanpa sadar,aku merasakan keindahan itu,keindahan kasih sayang,ketulusan yang selama ini kau beri.
“Yaudah,kalo lo percaya,berenti dong nangisnya,senyum kek.” Aku tersenyum lembut sedikit dipaksakan.
“Naaaah,gitu kan cantik?” ledeknya. “Udah mendung pake banget nih,lo gue anter pulang ya?” belum sempat aku menjawab,dia menyeretku menuju parkiran motor.
            Mes,apa lo juga ngerti perasaan gue ini ya? Apa lo tau,kalo selama ini gue udah ngrasain keindahan dibalik semua masalah gue? “Hey! Bengong! Buruan naik,keburu ujan nih.”
“Pegangan yang kuat!” menurut dengan perkataanya,aku mencengkram bahunya erat erat.
“Bukan bahu Milly,sini nih.” Protesnya sambil melingkarkan tanganku di perutnya.
“Pegangan yang erat ya?” aku hanya menganggukkan kepala,menurut dengan semua yang dikatakannya. Jantung ini tak mau berhenti berdegup cepat,meskipun tidak hanya satu kali ini aku mengalaminya,tetapi tetap saja aku belum bisa mengendalikan detak jantung yang berdetak cepat setiap kali aku dekat dengannya.
            Sepanjang perjalanan aku memeluknya erat. Bukan hanya karena dia melaju dengan kecepatan tinggi,aku juga takut akan kehilangan sosok seperti dia. Aku terus mendekapnya,dan merasakan kehangatan didekatnya.
“Udah sampek Mil,besok lo gue jemput lagi ya? Eiitts gak boleh nolak! Bye mil.” Kebiasaannya yang memaksa tetapi aku senang dia melakukannya,untukku.
            Aku Milly,Milly Sasmitha. Ames,Ames Satrio. Kita kenal lama sejak masuk di SMA Kemalajaya. Saat itu,entah mengapa ada salah satu orang kakak kelas yang benar benar membenciku pada saat itu. Dia bilang,aku adalah cewek penggoda yang tak tahu malu sudah merebut kekasihnya. Pada saat dia hendak memukulku,tanpa sengaja,Ames lewat dan mencegah pukulan itu.
“Lo gak papa? Lo belum diapa apain sama dia kan?” tanyanya khawatir sambil memegang kedua bahuku. Aku hanya mengangguk pelan dan takut untuk mengangkat kepalaku.
“Lo gak usah takut sama gue,gue gak bakal ngapa ngapain lo. Oh ya,gue Ames.” Seraya mengulurkan tangannya. Dengan sangat perlahan aku mengangkat kepala dan membalas uluran tangannya. “Gue Milly”
“Nama lo lucu juga. Lo masuk sepuluh berapa?”
“Sepuluh 3. Lo?”
“Gue sepuluh 5. Ngobrol di kantin aja yuk?” saat itu aku hanya mengiyakan ajakannya.
“Hah? Dia sampek bilang gitu ke elo?” tanyanya kaget dengan apa yang telah kuceritakan tentang kejadian tadi. “Alaaah dia bilang gitu ke lo mungkin karna lo cantik! Lo ngerti gak? Waktu MOS semua temen temen dikelas gue,sekaligus kakak kakak kelas itu terus terusan nyebut nama Milly Milly gitu. Eh ternyata itu lo? Pantes aja tuh kakak kelas nuduh lo ngrebut pacarnya.”
“Kok bisa? Emang kenapa?” tanyaku masih belum mengerti.
“Ya iyalah,secara dia kalah cantik sama lo! Pasti pacarnya nglirik nglirik lo mulu. Hahahaha.” Wajahku memerah seketika.
“Wajahlo merah tuh! Lo nahan eek ya? Hahahahaha” candanya yang membuat wajahku semakin merah,tapi kali ini disertai ledakan tawa dari mulut kita berdua yang sangat keras.
            Awalmula aku mengenal Ames dari kejadian yang sangat tidak disengaja itu. Setelah satu minggu kita kenal,hubungan kita semakin dekat. Cuma Ames satu satunya siswa yang mau dekat denganku saat itu. Dan semenjak aku mengenal Ames,aku merasa aku nyaman berada didekatnya. Kenyamanan itu berlangsung hingga sekarang.
“praang!” Aku menutup telingaku dengan bantal,aku menutupnya sangat erat. Aku ingin segera terlelap saat itu juga! Aku tak mau mendengar pertengkaran itu lagi. Aku benci!
-||-
“tiiin.” Klakson motor yang terdengar begitu nyaring di luar rumahku.
“Mama,Milly berangkat ya?” seraya mencium tangan mamaku,aku berpamitan berangkat ke sekolah.
“Lama banget sih lo?” protes laki laki putih berperawakan tinggi itu.
“Maaf.”
“Yayaa,lo gue maafin. Oke kita kemooon.”
            Sesampainya di sekolah..
“Mereka tarung lagi mil?”
“Tarung! Lu kata ayam ditarungin? Iya,kemaren. Gue pengen cepet pergi dari sana deh mes.” Ujarku lemas,dan putus asa.
“Lo gak boleh gitu dong Mil,kalo lo pergi mereka jadi kepisah gimana hayo? Makin ribet Mil ceritanyaa.”
“Pergi gak perginya gue,mungkin mereka bakal pisah mes. Gue gaktau mes,gue takut. Gue gak mau mereka pecah.”
“Mil,lo coba ngomong sama mereka deh. Lawan ketakutan lo.”
“Gue coba ya?”
“Gitu doong,itu namanya pemberani.”
            Saat itu,setelah pembicaraan itu,aku sempat berpikir Ngomong gak ya? Gue takut. Kalo mereka malah marah sama gue gimana dong? Tapi gue gak mau mereka pecah. Dengan segala keberanian,malam itu juga,aku mencoba berbicara dengan mereka,lebih tepatnya dengan mama.
“Ma?” rayuku seraya tidur dibahunya. “Mama sayang sama Milly gak?” pertanyaan itu sekilas membuat mama terkejut,tetapi aku bisa merasakannya.
“Ya sayang lah Miil,mama sayang banget malah sama Milly.” Katanya seraya mencium keningku lembut.
“Milly juga sayang mama. Tapi Milly lebih sayang kalian,kalo kalian berhenti bertengkar setiap malam.” Perkataanku kali ini benar benar membuat mama terkejut. Sebelum mama angkat bicara,aku memotongnya terlebih dahulu. “Mama sayang Milly kan? Kalian sayang Milly kan? Milly gak mau kalian bertengkar,Milly takut kalo kalian bertengkar,Milly gak suka ma,Milly keganggu,Milly takut.”
            Dengan lembut mama memelukku dan mencium keningku. Aku merasakan basah di keningku,mama menangis,aku tetap tidak bergeming dalam pelukan mama,aku ingin terus seperti ini. Aku terlalu takut untuk mengangkat kepalaku,aku takut melihat air mata mama jatuh. Merasakan air mata mama menetes dikeningku itu sudah sangat menyakitkan,lebih menyakitkan lagi jika aku mengangkat kepalaku dan melihat air mata itu jatuh di pipi mama. Mendengar mama dipukul setiap malam pun aku tak sanggup mendengarnya.  Aku belum pernah melihat mama menangis,aku hanya pernah mendengar sesenggukkan mama. Mungkin saat itu mama sedang menangis,tetapi aku tak ingin memikirkannya,aku akan menangis jika mama menangis,seperti saat ini.
“Milly sayang mama,Milly sayang kalian berdua.” Ujarku seraya semakin membenamkan wajahku dalam pelukan mama. “Milly gak mau kalian pisah,Milly masih mau kalian utuh bersama Milly.”
“Milly,Milly dengar mama sayang. Mama sayang sama Milly,mama sayang juga sama papa. Sebenarnya mama juga gak mau kita seperti ini sayang,mama juga benci suasana seperti ini. Gak ada yang mau hal ini terjadi Milly,Milly mengerti?” aku hanya menganggukkan kepalaku. “Kalau seumpama mama sama papa bener jadi pisah,Milly gimana?” pertanyaan mama satu ini bener bener aku gak suka.
“Milly gak suka ma! Milly gak mau kalian pisah! Milly bakalan benci kalian kalo kalian pisah!” bantahku dengan nada cukup tinggi. Aku langsung beranjak pergi keluar kamar mama dan menutupnya sekeras mungkin
            Dari luar,aku tidak benar benar pergi dari kamar mama. Aku mendekatkan telingaku didepan pintu kamar mama,dan aku mendengar mama menangis tersedu. Air mataku mulai membasahi pipiku lagi. Aku duduk memeluk kedua lututku sambil menangis tanpa suara didepan kamar mama.
Satu jam,dua jam,aku tetap menangis tanpa suara didepan kamar mama. Sampai akhirnya mama membuka pintu dan mendapati diriku menangis sambil memeluk lututku. Mama langsung memelukku erat saat itu juga,mama juga ikut menangis bersamaku. Aku membalas pelukan mama,dengan sangat erat. “Milly gak mau kalian pisah ma,Milly gak mau!” bisikku lirih tetapi sangat menekankan kata kata itu.
Mama hanya diam dan terus menangis memelukku,meciumku. Milly sayang mama,Milly benci mama sedih! Milly benci mama disakiti! Teriakku dalam hati. Mama membawaku kembali kedalam kamar mama.
 Aku tidur di kamar mama malam itu. Tapi ketika mama terlelap,aku tidak benar benar tidur. Aku masih menikmati pelukan mama dengan mata terpejam. Hingga aku mendengar suara pintu kamar dibuka. Aku yakin itu papa,aku yakin itu papa. Papa? Papa..
Aku merasakan tubuh papa disampingku. Papa memelukku,menciumku,mendekap erat aku. Aku merasakan air mata papa malam itu,air mata laki laki yang tidak pernah menangis,sekalipun itu kematian adiknya sendiri. Papa menangis,papa meneteskan air mata. Papa memeluk aku dan mama,dalam kewibawaannya,dalam dekapan kasih sayangnya yang tercurah malam itu.
-||-
“Millyyy! Woy! Disamperin dirumah juga! Ah elaaaah.” Gerutu Ames di kelasku pagi pagi.
“Hehehe,maaf maaf. Tadi gue berangkat bareng papa.”
“Hek? Papamu?”
“Iyaa,gausah kaget gitu deh. Sini duduk,gue certain semuanya.”
            Dengan sangat serius Ames mendengarkan semua curahan hatiku,semua cerita yang aku sampaikan. Setelah aku selesai menceritakan segalanya… dia memelukku erat,membisikkan kalimat di telingaku “Selamat ya? Gue harap,keluarga lo gak bakalan pernah berfikir lagi buat pisah,dan hidup bahagia selamanya.” Dalam pelukan dan bisikkan itu,aku merasa hari ini benar benar hari yang sangat berkesan. Gue harap juga gitu mes,gue gak mau keluarga gue pecah.
“Sebagai perayaan,ntar pulang sekolah kita jalan yuk? Gue anter lo pulang ke rumah ganti baju dulu,okee? Dilarang keras untuk menolak!”
“Iya deh sip.” Jawabku sambil mengacungkan kedua ibu jariku. Dia mengacak acak poniku kasar dan langsung berlari pergi sebelum aku memukulnya.
            Ames,seandainya lo tau.
“Ajak gue kerumah lo dong meees.” Bujukku ketika kita hendak mengakhir i jalan jalan hari itu.
“Lo gak bakal mau kerumah gue Miil.”
“Kenapa enggak? Ayo dong meees!! Pleeeaaseee?” rayuku dengan pasang muka melas sebagai jurus paling ampuh merayu Ames.

“Ini rumah lo mes? Waaah gede banget ya? Rumahku aja kalah,hehehe.” Ujarku meledek tetapi memang rumah Ames lebih besar dari rumahku yang memang besar.
“Lebay deh lo! Udah yuk masuk!” seraya menyeretku masuk kedalam rumahnya.
            Aku melihat lihat foto diruang keluarga yang cukup besar itu. Ada Ames sewaktu mungkin kira kira masih SMP,dengan mamanya. Mamanya cantik,tapi aku tidak melihat foto ayah Ames.
“Mamaaa,ada tamu cantik nih!” teriaknya sambil berlari menuju ruangan di dekat ruang keluarga. Ames mendorong kursi roda,disitu,yang tengah duduk disitu adalah mama Ames. Selama ini,aku benar benar tidak pernah diajak Ames kerumahnya ,dan bertemu dengan mama Ames sebelumnya.
            Keadaan mama Ames cacat,mukanya tidak secantik di foto. Mama Ames benar benar cacat. Mama Ames masih bisa berbicara dengan jelas,ingatannya masih sangat jelas,hanya keadaan fisiknya yang sangat buruk.
“Malam te.” Sapaku seraya mencium tangan mama Ames. “Maaf ya ganggu malem malem.”
“Gakpapa,tante malah seneng Ames ada temennya selain kakaknya.” Ujar tante lembut. Caranya berbicara sangat lembut. Jika saja mama Ames masih secantik dulu,mungkin dia memang benar benar seperti bidadari.
“Ames punya kakak te?” tanyaku ingin tahu. Dia tidak pernah menceritakan ini sebelumnya.
“Iya,kakak Ames cowok juga. Masih kerja,kalo pulang malem malem terus.”
“oooh”
            Ames sama sekali belum pernah menceritakan tentang keluarganya. Ketika aku bertanya seputar keluarganya,dia hanya menjawab “Aku memiliki seorang Ibu yang sangaaaaat hebat.” Selanjutnya entah, Ames selalu memiliki cara agar aku tidak bertanya tanya tentang kehidupan keluarganya.
“Oh ya,nama kamu siapa?”
“Milly te.”
“Namanya lucu,anaknya cantik.”
“Ah tante bisa aja.”
“Yasudah,kalian ngobrol ngobrol aja ya? Tante tinggal kedalam,biar nanti tante suruh pembantu buat bikin minum buat kalian.”
“Perlu diantar ma?”
“Gak usah,kamu ngobrol aja sama Milly,mama mau istirahat aja.” Ujarnya lembut penuh dengan nada keibuan.
“Selamat beristirahat ya te?” mama Ames hanya membalas dengan seulas senyum indah.
            Rumah Ames sungguh besar,dan hanya hidup bertiga.
“Di taman depan aja yuk.” Ajak Ames. Aku hanya menurut apa katanya saja.
“Mes?”
“Mama cacat,Mama cacat karna…” perkataannya menggantung begitu saja,seolah ini sungguh berat untuk dia bercerita. “… karna papa.” Aku tak mengerti bagaimana perasaan Ames saat ini,entahlah. Matanya,sikapnya sangat sukar dibaca,mungkin Ames benar benar sakit.
“Papa nyakitin mama gitu aja didepan gue sama kak Arfian, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun,papa malah pergi buat wanita jalang lain yang lebih jelek dari mama,yang lebih buruk. Papa itu orang bodoh yang pernah gue kenal. Sangat bodoh.” Senyum benci begitu terpancar dibibirnya saat ini.
            Ames,aku tidak pernah menyangka Ames memiliki permasalahan lebih besar dariku. Ames benar benar orang kuat. Perasaannya saat ini mungkin hanya sakit dan marah yang amat sangat. Dari sikapnya selama ini,ternyata dia memilikki permasalahan yang lebih berat.
“Gue janji ama diri gue sendiri,gue gak bakal pernah jadi orang brengsek kayak papa! Gabakal pernah gue lupa sikap papa sama mama! Gak bakal!” aku hanya memegang bahunya erat, dan menatapnya dalam. Jauh didalam hatinya,ia memiliki luka yang sulit untuk dihilangkan. Aku bersandar di bahunya. Lo emang bener bener orang yang istimewa mes,lo hebat,lo kuat.
-||-
“Pa,ma,Milly berangkat dulu ya?” seraya mencium tangan papa mama. Mungkin pagi ini akan berlangsung lebih indah dari biasanya. Sudah satu tahun lebih aku menjalani hidup sebagai mahasiswa. Ames? Dia memang satu kampus denganku,dan berbeda jurusan.
“Ati ati ya? Mes! Jaga Milly baik baik ya!” teriak papa dari teras rumah.
“Beres oom!” jawab Ames seraya mengangkat kedua ibu jarinya.
            Aku dan Ames. Kita akan selalu menjadi kita,Ames dan aku telah bertunangan dua bulan lalu. Rencana selanjutnya,setelah lulus dan memiliki pekerjaan tetap,Ames akan meminangku menjadi istrinya,dan merajut hidup bahagia hingga kelak kita kembali dalam pangkuannya.

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Need time to rest