Pecundang sejati~
Mungkin memang benar aku seorang pecundang. Seorang pengecut. Seseorang yang sangat payah. Ya, untuk menanyakan kabar kalilan saja aku tak mampu. Hanya untuk sekedar memastikan bahwa kalian baik-baik saja akupun tak mampu.
Ketika kalian terjatuh, terhempas, sakit, untuk memastikan keadaan kalian tetap baik-baik saja aku tak mampu mengungkapkannya. Mulutku kelu, kaku, tak dapat berkata. Ketika kalian tertimpa sesuatu, aku hanya bisa menangis melihatnya. Hanya menangis yang dapat aku lakukan. Untuk bertanya "Kalian gak papa?" Itu terasa begitu berat. Kemudian aku hanya menangis dan terus menangis.
Mungkin memang benar, aku adalah anak yang payah. Anak yang sangat payah. Namun, kalian begitu berarti bagi seseorang yang sangat payah seperti diriku. Kalian takan pernah tergantikan oleh kekayaan seperti apapun. Bahkan surga, aku belum yakin, surga dapat menggantikan kalian. Mungkin tanpa kalian, aku takan sebesar ini. Tanpa kalian, mungkin aku masih menjadi bayi yang tak bisa mengerti apa-apa.
Dengan ketulusan hati kalian, kalian membantuku untuk terus bangkit ketika aku terjatuh. Dan menguatkan kakiku untuk terus berjalan.
Kadang, aku merasa diriku seperti hama yang selalu merepotkan kalian. Selalu membuat kalian susah. Tapi.. aku harap itu hanya pikiranku.
Ketika kalian terjatuh, terhempas, sakit, untuk memastikan keadaan kalian tetap baik-baik saja aku tak mampu mengungkapkannya. Mulutku kelu, kaku, tak dapat berkata. Ketika kalian tertimpa sesuatu, aku hanya bisa menangis melihatnya. Hanya menangis yang dapat aku lakukan. Untuk bertanya "Kalian gak papa?" Itu terasa begitu berat. Kemudian aku hanya menangis dan terus menangis.
Mungkin memang benar, aku adalah anak yang payah. Anak yang sangat payah. Namun, kalian begitu berarti bagi seseorang yang sangat payah seperti diriku. Kalian takan pernah tergantikan oleh kekayaan seperti apapun. Bahkan surga, aku belum yakin, surga dapat menggantikan kalian. Mungkin tanpa kalian, aku takan sebesar ini. Tanpa kalian, mungkin aku masih menjadi bayi yang tak bisa mengerti apa-apa.
Dengan ketulusan hati kalian, kalian membantuku untuk terus bangkit ketika aku terjatuh. Dan menguatkan kakiku untuk terus berjalan.
Kadang, aku merasa diriku seperti hama yang selalu merepotkan kalian. Selalu membuat kalian susah. Tapi.. aku harap itu hanya pikiranku.
Komentar
Posting Komentar