Cinta Semusim


Hujan. Hal yang paling menyenangkan, menakutkan, menyedihkan, mengharukan, menegangkan. Ada berbagai cerita dibalik setiap tetesnya. Menakutkan ketika badai datang bersamanya, dan aku hanya sendiri. Menyenangkan ketika harus berada di luar bersama hujan, dan bersamamu. Berlari, tertawa lepas, bahagia bersamamu di tengah-tengah hujan. Mengharukan ketika aku menangis dan bahumulah yang menjadi sandaran, menjadi tempat penampungan setiap tetes air mataku. Menegangkan ketika kau mulai marah di tenga-tengah petir yang kian marah bersama amarahmu. Menyedihkan ketika aku mengerti, dan aku menyadari kau harus benar-benar pergi dari hidupku. Tak lagi menemaniku. Tak lagi ada bersamaku.

Tawa, canda, air mata, pelukan, genggaman. Semua seakan-akan pergi dan tak kembali. Pergi bersamamu yang kini aku tak mengerti masih adakah secuil aku dalam hatimu. Pergi bersama tetes-tetes hujan yang mengantarkanmu menjauh dariku.

Kau dan semua cerita tentangmu, masih ada di dalam hati dan memori otakku. Berusaha membuang jauh, tapi seperti usaha yang begitu sia-sia. Semua itu semakin membuatmu melekat erat dan seakan enggan untuk pergi. Tapi dalam nyata kau telah tiada. Dalam nyata kau telah pergi. Menjauh. Bahkan kau menganggapku seperti orang asing yang tak sudi untuk kau kenali. Suatu penghinaan yang menyakitkan bagiku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Semua telah berakhir. Memang seharusnya aku pergi. Mengimbangimu. Aku akan pergi. Tapi aku takan bisa berjanji untuk menghapus semua kenangan yang ada. Aku takan bisa berjanji untuk mengusirmu dari hati dan otakku.

Biarkan semuanya seperti ini. Seiring berjalannya waktu mungkin kenangan-kenangan itu akan terkikis. Tapi tidak benar-benar hilang. Karena perasaan takan bisa berdusta seperti mulutmu yang dengan mudahnya mengakhiri segalanya. Seakan-akan semua hanya hujan dan angin yang sekedar lewat dalam benakmu. Membuang jauh-jauh segalanya. Segalanya yang telah terukir dalam-dalam dan terkubur di hati.

Terima kasih akan segala kebahagian yang pernah kau berikan kepadaku. Dan terima kasih akan kesakitan yang akan selalu terasa ketika aku mengingat segalanya.

Cinta yang hanya semusim. Yang membuatku susah melepaskannya untuk bertahun-tahun. Dan dengan bodohnya masih menaruh harapan ini terhadapmu yang begitu kasar menjatuhkannya. Dan aku berdoa semoga Tuhan memberikanku lelaki yang jauh lebih baik darimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Need time to rest