Dari murid untuk guru


Akhirnyaaaa setelah sekian lama gak nemu jenis orang macam guru SMPku pas ngrasain pertama punya guru paling asik dan paling sesuatu lah. Kita biasa panggil beliau pak Catur. Di SMA ini punya guru macam bapak Catur. Orangnya kalo ngomong asli pedes setengah mati, tapi itu bener-bener memotivasi murid-muridnya. Kali ini bukan guru olahraga kayak pak Catur. Tapi guru Bahasa Inggris. Orangnya samaa kayak pak Catur. Tapi cuman di bidang memotivasi dan gaya mengonsumsi makanan yang baik aja. Sama-sama top. Tapi punya kelebihan dan kekurangan masing-masing :)) Satu hal yang sama. Sama-sama lebih tua dari ayah dan ibu saya :D hehe
Yaaah jadi kangen masa SMP. Emang lebih enak waktu SMP kok. Apalagi…waktu masih di
SMP lama saya :’) yah ngomongnya jadi campur. Ada saya ada kamu. Biarkan sajalah. Memang kenangan itu mampu membuat siapa saja yang mengingatnya jadi senyum-senyum sendiri. Kenangan itu isinya yang baik-baik semua. Karenaaaa semua yang baik-baik harus dikenang. Kalo yang buruk-buruk ngapain dikenang? Yang buruk-buruk itu di ambil hikmahnya lalu dibuat pelajaran.
Oh yaa, soal guru bahasa Inggris itu namanya pak Fanani. bener-bener total emang kalo ngajar. Bener-bener lah. Saya aja deg-degan kalo guru itu udah masuk. Emm, saya lagi? Aku aja. Biar gak terlalu formal. Aku aja deg-degan kalo guru itu udah masuk kelas. Udah gitu aja. Soalnya baru kenalan kok sama gurunya.
Ada enaknyaa ada enggaknya di SMA ini. Karna apa? Terlalu banyak drama. Yaa namanya ABG anak baru gede. Di SMP juga ada sih yang drama-drama. SD aja ada kok. Tapi ya setiap tingkatan makin banyak drama ya? Atau karna terlalu banyak sinetron yang terlalu mendramatisir di Indonesia? Bisa jadi lah. Apaaah? *zoom* *ZOOM*
Gurunya lebih banyak gak enak mungkin. Yang enak bisa diitung. Hampir sama juga sama SMP tapi memang benar-benar SMA ini terlalu dilebih-lebihkan semuanya. Aku aja bingung kenapa seperti iniiii? Apa salah kami? (nah kan jadi drama-__-) masalah guru itu, berdasarkan guru-guru yang ngajar aku itu rata-rata ya? Suka seenaknya sendiri, kalo nerangin gak jelas (sekedar ngomong, menjelaskan membelakangi murid, bahkan ngomong sendiri) itu semacam guru yang bener-bener gak bertanggung jawab. Mereka emang orang muda tua, tapi ya lihatlaaah kami anak muda, bukan orang tua. Mohon mengertilah kami juga, jangan memaksa menerangkan dengan cara kalian dan hanya sekedar berbicara “ada yang bertanya?” tapi pas udah tanya jelasinnya sama kayak yang pertama nerangin. Itu sama ajaaaa. Kita orang bego yang sekolah biar pinter! kalo dibegoin kayak gitu ya kapan kita majuu? Please jadi guru itu yang jelas dikiit. Emang bener kali enakan guru-guru baru. Guru-guru yang udah sepuh itu system mengajar, system seleksi jadi gurunya kan juga udah pake era jadul sekali. Kita ini siswa yang perlu bimbingan kalian untuk menjadi siswa yang berakal cerdas. Lebih cerdas dari guru mustinya. Kalian pembimbing kita, kalian orang-orang penting dihidup kita. Karna gak ada guru gak ada orang sukses! Jadi, kalian juga seharusnya tau murid kalian. Kalo cara ngajarnya kayak gini ini (Cuma ngomong, ngomong sendiri, membelakangi murid, mengulang penjelasan seperti awal, dsb) itu kita jadi sama-sama egoisnya. Kita jadi sama-sama begonia.
Ini Cuma pendapat dari saya seorang murid ya? Itu menurut saya. Kalo gurunya nerangin aja udah acak adul dan gak jelas ya gimana muridnya? Kita orang-orang gk tau apa-apa yang sekolah buat bisa tau apa saja dari kalian para guru. Jadi dimohonlaaah. Kalo emang ada murid yang mengkritik cara mengajar kalian, ya jangan langsung nggondok atau malah marah-marah sama murid kalian. Karna emang kalian itu juga ada salahnya. Kalian juga manusia hei para guru. Tentang pendapat “Guru selalu benar,” kalian malaikat? Kalian Cuma manusia yang jadi ‘guru’. Sama-sama manusia. Kita sama-sama memberi kritikan. Kalau kalian juga menganggap murid kalian ‘bodoh’, oke baik kita murid-murid ini bodoh. Karna itu kita sekolah. Tapi kalau kalian menganggap kita bodoh terus-menerus sedangkan kita sudah berusaha sebisa kita, itu sama aja kalian yang hina. Kalo emang murid kalian seperti itu, coba kalian liat kedalam diri anda juga. Apa yang salah dengan anda. Mohon pengertiannya untuk para guru.
Kami sebagai murid benar-benar menghargai jasa kalian. Sangat menghargai. Tapi jika kalian sendiri pun tidak menyadari apa yang salah dengan kalian, cara kalian bersikap itu buruk, penjelasan kalian kacau, bagaimana kita menerima kalau memang penjelasan dari kalian itu tidak jelas dan cara menjawabnya juga too bad tapi kalian tetep ngeyel “saya paling benar” kita bisa apa coba? Ya kita jadi gak pinter-pinter. (sebenernya tau apa yang saya omongin gak sih? Kalo gak ya.. yasudahlah)
Pada intinya kita sama-sama manusia. Guru dan murid sama-sama manusia, gaada yang malaikat. Sama-sama punya salah. Jadi kritik dan saran baik dari guru ke murid atau dari murid ke guru itu dimohon untuk diterima. Bukan ditolak mentah-mentah dengan cara nggondok(baca : ngambek) dan marah. Kalian sebagai yang ‘mengerti’ ajarkan ilmu kalian, bagikan ilmu kalian kepada kami yang ‘tidak mengerti’ tapi dengan penjelasan yang benar-benar bisa kami terima. Makanya kritik dan saran itu perlu. Udah gitu.
‘yah dari tadi ngecemes (baca : cerita) panjang lebar itu intinya segitu? Please -_-‘
Ya kurang lebih seperti itu. Saya kan murid, saya juga berhak dong menyampaikan aspirasi saya. Ya mohon maaf lahir dan batin kalo emang ada salah-salah/wrong-wrong, wassalamualaikum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Need time to rest