Kadang apa yang kita mau nggak terwujud. Kadang apa yang kita cinta nggak bisa kita miliki. Semua punya jalannya masing-masing. Mungkin bukan saatnya aku mendapatkanmu. Mungkin bukan saatnya aku menjadi satu-satunya di hatimu. Mungkin belum sekarang. Mungkin suatu saat nanti. Semoga saja suatu saat nanti.

Aku nggak ngerti gimana nanti kalau memang kau menjadi milikku dan aku milikmu. Entah, aku udah ada di langit ke berapa jika itu benar terjadi. Mungkin akan menjadi indah. Yang paling indah.

                Ketika melihatmu, ketika tidak sengaja menyentuhmu, ketika bergurau denganmu, ketika berbicara denganmu, ketika melihat kau marah, ketika melihat kau bahagia, ketika melihat kau kecewa, ketika melihat kau benar-benar merasa bahagia akan kemenangan, ingin rasanya aku menggenggam tanganmu, memelukmu, dan takan membiarkanmu pergi jauh dariku. Ingin rasanya memilikimu bukan hanya di mimpi. Ingin merasakan hidup ini selalu bersamamu. Bahagia, sedih, marah, kecewa, tegang, semuanya aku ingin rasakan bersamamu. Hangat pelukan dan lembut genggamanmu ingin aku rasakan dalam nyata. Bukan dalam angan.

                Meskipun saat ini aku tau. Aku mengerti. Kau sedang berbahagia bersamanya. Bersamanya yang sedang menguasai hatimu. Mungkinkah suatu saat ketika kau memilih pergi darinya dank au memilihku menjadi yang terakhir. Mungkinkah? Akankah terjadi? Ingin sekali.

                Tidakkah kau mendengar suara detak jantung yang selalu berdegup kencang ketika kita berdekatan. Tidakkah kau merasakan perasaan yang tak biasa dalm hati ini? Pahamilah. Aku mencintaimu. Diam-diam. Tanpa kau tau sedikitpun tentang perasaanku.

                Mencintaimu dalam diam memang bukanlah hal mudah. Menahan semua rasa sakit ketika kau bahagia tapi bukan karena ku. Menahan semua rasa sakit dalam hati harus berpura-pura biasa saja terhadapmu. Menahan tangan yang selalu ingin menggenggam tanganmu. Menahan dada untuk tidak menangis ketika memang aku benar-benar bukan hidupmu.

                Andai kau mengerti. Andai kau membaca ketulusanku. Andai kau memperhatikan mataku dalam-dalam dan mengerti apa yang sedang aku rasakan. Andai kau membaca dan menerima ketulusan ini. Andai. Semua hanya andai. Aku berdoa suatu hari nanti keandaian itu bisa nyata. Kau milikku dan aku milikmu. Untuk yang terakhir. Dan hidup bersama hingga ajal menjemput. Tapi aku mengerti jika memang kau bukan yang terakhir. Atau mungkin Tuhan menyiapkan yang lebih baik dari mu. Tapi aku berharap dan aku berdoa, yang terakhir itu kamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Need time to rest