kemarin-hari ini-esok
Selamanya. Keabadian. Sesuatu yang takan pernah terjadi di dunia ini.
Sesuatu yang sungguh takan pernah menjadi nyata di dunia ini. Dengan mengucap
‘aku mencintaimu untuk selamnya’ sungguh sebuah pengakuan yang palsu. Sangat
palsu.
Jika semua orang mengatakan
‘aku mencintaimu. Selamanya.’ Aku takan pernah menirunya, mengucapkannya. Karna
aku, mencintaimu-kemarin-sekarang-esok-dan hingga nyawa ini tak lagi ada dalam
tubuhku. Dan aku berdoa, semoga Tuhan menemukan kita nanti di surga-Nya kelak.
Ya, aku tak pernah
mencintaimu untuk selamanya. Karena aku tau selamanya itu takan pernah ada.
Keindahan sebuah
cinta, ketulusannya, kejujurannya, keberadaannya, dirasakan dalam dada. Di
tengah-tengah dada. Diantara paru-paru yang tidak bisa disebut sebagai hati.
Yang tak terdefinisikan. Tempat merasakan segala perasaan. Entahlah,
sesungguhnya aku pun tak mengerti apa itu cinta. Aku tak pernah faham
dengannya. Namun, aku merasakan suatu kasih sayang yang lebih dari sekedar
sayang. Aku tak tau itu cinta atau bukan. Jelasnya, perasaan ini begitu jujur,
tulus, dan indah. Aku tak pernah bisa menjelaskan apa yang kurasakan sekarang.
Perasaan ini,
terkadang menyiksaku, terkadang membuatku merasa begitu bahagia, merasa begitu
istimewa. Bahagia ketika aku merasa kau begitu dekat dan begitu menyenangkan.
Sakit ketika kau jauh dan menyiksa ketika rindu itu datang. Membingungkan.
Kamu menyebalkan.
Tapi menyenangkan. Mampukah kau menjelaskan? Mampukah kau mendefinisikan ini?
Semarah apapun aku, aku tak benar-benar marah. Aku tak mampu. Tak bisa.
Mungkin memang ini
cinta. Ya, aku mencintaimu. Kemarin-hari ini-esok-dan sampai nyawa ini tak lagi
berada dalam tubuhku.
Komentar
Posting Komentar