Ledakan tak terduga

Aku tulis ini penuh emosi
Aku tulis ini penuh rasa lelah
Atas hinaan, caci maki, sarkas, sindir, keluhan yang diluncurkan terus menerus bergantian


  1. Sindiran dan sarkas ini berbagai macam bentuk, sering melalui helaan napas besar pasca menatapku
  2. Hinaan, tengah mengerjakan tugas yang sesungguhnya cukup membuat hampir gila (ya terserah, hampir gila menurutku, lebay menurut kalian its okay) tiba-tiba meluncur perkataan kurang lebih mengatakan bahwasanya aku dari tadi hanya diam dan bermain-main, lalu diakhiri dengan helaan napas dalam dan besar memberatkan
  3. Keluhan bahwasanya tidak dibantu tidak ditolong malah melakukan hal sia-sia, yang mana hal yang dianggap sia-sia ini adalah tugas akhir dan syarat-syarat kelulusan lainnya
Sedikit, demi sedikit, dengan mudah mengabaikan hal-hal demikian. Lama, kelamaan, akhirnya membuncah dan meluap segala abai yang ternyata hanya mengendap lalu menyumbat mengakibatkan ledakan.

Heran juga, kenapa ya? Bisa demikian. Berkata percaya namun keraguan dan ketidak percayaan yang dominan tampak.

Menginginkan hatinya disenangkan dengan puja puji, uang, dan juga penghargaan, tanpa usaha.
Menginginkan dihargai tanpa mau menghargai. Mengabaikan mental, mengabaikan apa itu mengerti. Mengatakan aku ini sama saja dengan seorang bajingan, lalu dirinya sendiri apa? Tindakan protes dan pembelaan diri sudah diluncurkan dan benar saja aku tau akan sia-sia. Diam diinjak-injak. Anda ingin apa? Uang?
Merasa dirinya paling benar. Merasa dirinya paling baik. Bagus sekali, saya kagum ada manusia seperti ini. Seperti Anda dan aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Need time to rest