Pertengahan Mei 2019
WAH GILA SIIH
Gimana ya?
Aku terlanjur janji untuk tidak merepotkan orang lain dengan beban-bebanku.
Akhirnya diperbaruilah blog yang sudah sangat usang dan berdebu ini.
Ya gapapa ya kalian-kalian ini yang mungkin sudah mau repot-repot baca tulisan-tulisan yang mungkin juga akan sering nampak di blog ini.
Oh iyaa, tolong saya diberi tips agar tidak mudah ngantuk gitu bisa kali :') ini sedang bergelut dengan kantuk jadinya nulis blog gini.
Semua yang saya/aku tulis di sini murni keluh kesah, keresahan, rasa, dan asa.
Saat dibatasi ruang gerak dalam meng ekspresikan diri oleh bacot netizen. Sesungguhnya/sebenarnya tak apa. Semua orang mempunyai hak dalam berbicara. Ada beberapa titik ego manusia yang membatasi kebebasan itu singgah. Saya misalnya, payah dalam candaan teman-teman yang suka body shaming atau flirting terhadap organ tubuh wanita saya. Masih suka baper, masih suka gondok. Tapi ga lama, tapi ya marah. Jelas. Entah. Sebagian orang bilang saya ini kaku. Sebagian lagi mendukung aksi marah/ngambek saya ini karena memang teman-teman saya kelewat batas dalam bercanda. Jadi, kenapa ya?
Saya mengamini, kalau pribadi ini harus berubah, menjadi sesuatu yang lebih baik, yang lebih bisa beradaptasi terhadap semua hal. Salah satunya kebal dengan titik lemah. (Gak ada orang hebat di dunia ini Put, menghayal kamu ingin menjadi orang paling bisa menyesuaikan diri dengan apapun). Baik-baik, memang. Tapi, saya ingin. Suatu saat nanti saya akan menjadi orang yang bisa mengatasi kebencian saya tidak dengan marah. Ya tapi lagi, saya juga gak tau kapan terjadi.
Seharusnya sampai sini, itu sudah sumbangan kata buat latar belakang ya. Tapi saya malah nyasar kesini. menyampaikan keresahan. Keresahan yang tanpa arah.
Kenapa juga saya lebih suka berbincang dengan diri saya sendiri hanya melalui gadjet. Dengan cara diketik, lalu dibaca. Lebih puitis pikirku. Padahal nyatanya ya engga, biasa aja.
Saya putuskan kembali jatuh cinta dengan blog karena, selain Tuhan, saya butuh sesuatu yang harus didengar oleh orang lain. Yang mungkin direspon orang lain. Bukan dengan "Sabar ya" tapi dengan hal-hal lain.
Berdosa tidak jika saya meninggalkan nomor telephon untuk kalian yang mungkin membutuhkan ruang bercerita? Nanti lah, tunggu ada yang minta/kirim email ke saya. Hehe.
Saya suka membantu orang lain, selama saya mau dan ingin.
Saya-saya amat ini daritadi kebawa chat sama dosen.
Terimakasih, sudah didengar melalui suara bacaan dalam hati kalian masing-masing.
Gimana ya?
Aku terlanjur janji untuk tidak merepotkan orang lain dengan beban-bebanku.
Akhirnya diperbaruilah blog yang sudah sangat usang dan berdebu ini.
Ya gapapa ya kalian-kalian ini yang mungkin sudah mau repot-repot baca tulisan-tulisan yang mungkin juga akan sering nampak di blog ini.
Oh iyaa, tolong saya diberi tips agar tidak mudah ngantuk gitu bisa kali :') ini sedang bergelut dengan kantuk jadinya nulis blog gini.
Semua yang saya/aku tulis di sini murni keluh kesah, keresahan, rasa, dan asa.
Saat dibatasi ruang gerak dalam meng ekspresikan diri oleh bacot netizen. Sesungguhnya/sebenarnya tak apa. Semua orang mempunyai hak dalam berbicara. Ada beberapa titik ego manusia yang membatasi kebebasan itu singgah. Saya misalnya, payah dalam candaan teman-teman yang suka body shaming atau flirting terhadap organ tubuh wanita saya. Masih suka baper, masih suka gondok. Tapi ga lama, tapi ya marah. Jelas. Entah. Sebagian orang bilang saya ini kaku. Sebagian lagi mendukung aksi marah/ngambek saya ini karena memang teman-teman saya kelewat batas dalam bercanda. Jadi, kenapa ya?
Saya mengamini, kalau pribadi ini harus berubah, menjadi sesuatu yang lebih baik, yang lebih bisa beradaptasi terhadap semua hal. Salah satunya kebal dengan titik lemah. (Gak ada orang hebat di dunia ini Put, menghayal kamu ingin menjadi orang paling bisa menyesuaikan diri dengan apapun). Baik-baik, memang. Tapi, saya ingin. Suatu saat nanti saya akan menjadi orang yang bisa mengatasi kebencian saya tidak dengan marah. Ya tapi lagi, saya juga gak tau kapan terjadi.
Seharusnya sampai sini, itu sudah sumbangan kata buat latar belakang ya. Tapi saya malah nyasar kesini. menyampaikan keresahan. Keresahan yang tanpa arah.
Kenapa juga saya lebih suka berbincang dengan diri saya sendiri hanya melalui gadjet. Dengan cara diketik, lalu dibaca. Lebih puitis pikirku. Padahal nyatanya ya engga, biasa aja.
Saya putuskan kembali jatuh cinta dengan blog karena, selain Tuhan, saya butuh sesuatu yang harus didengar oleh orang lain. Yang mungkin direspon orang lain. Bukan dengan "Sabar ya" tapi dengan hal-hal lain.
Berdosa tidak jika saya meninggalkan nomor telephon untuk kalian yang mungkin membutuhkan ruang bercerita? Nanti lah, tunggu ada yang minta/kirim email ke saya. Hehe.
Saya suka membantu orang lain, selama saya mau dan ingin.
Saya-saya amat ini daritadi kebawa chat sama dosen.
Terimakasih, sudah didengar melalui suara bacaan dalam hati kalian masing-masing.
Komentar
Posting Komentar